Kamis, 11 Desember 2025

Rumah ke Rumah :)

 

Tempat Aku Berhenti dan Kembali Menemukan Diri

Oleh Anzalia


Sejak hari pertama aku memeluknya, hidupku terasa berubah arah. Aku pernah memiliki daftar panjang tentang hal-hal yang ingin kukejar, tempat-tempat yang ingin kudatangi, dan mimpi-mimpi yang kubangun dengan penuh semangat. Namun, ketika tubuh kecil itu diletakkan di dadaku, seakan semua daftar itu menepi sendiri, memberi ruang pada sesuatu yang jauh lebih lembut dan lebih penting.

Anakku lahir dengan tangis yang membuat dadaku bergetar, seolah dunia memberi tanda bahwa dari hari itu, aku memiliki peran baru yang tak pernah benar-benar kupersiapkan, tetapi langsung kupeluk sepenuh hati. Rasanya seperti memulai hidup dari halaman pertama kembali, tapi kali ini dengan warna yang tak pernah kutemukan sebelumnya.

Hari-hari setelah ia lahir berjalan dalam ritme yang tak pernah kukenal. Ada pagi yang penuh tawa kecil, ada malam yang panjang dan sunyi namun tetap terasa hangat karena napas lembutnya di pelukanku. Kadang aku merasa begitu lelah, tubuhku mencari-cari sisa energi yang mungkin tertinggal. Kadang dadaku terasa penuh oleh rasa takut—takut gagal, takut tidak cukup baik, takut tidak mampu menjalani semuanya.

Namun setiap kali kutatap wajahnya yang mungil, ada sesuatu yang membuatku kembali kuat. Seperti dunia sedang mengingatkanku bahwa berhenti dari mimpiku bukanlah menyerah, melainkan memilih untuk menjaga sesuatu yang baru tumbuh dengan sepenuh hati. Bahwa langkahku memang melambat, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Ada masa di mana aku duduk lama di tepi tempat tidur, memandangi langit di luar jendela sambil mengingat hari-hari sebelum ia datang. Hidupku dulu terasa luas, rasanya seperti aku bisa menempuh apa pun. Kini, hidupku terasa lebih kecil, tetapi dalam ruang yang lebih kecil itu, aku menemukan kehangatan yang tak tertandingi. Setiap geraknya, setiap helaan napasnya, seolah menenun ulang diriku menjadi manusia yang berbeda.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit, dan bersamanya aku juga tumbuh—bukan sebagai seseorang yang meninggalkan impiannya, tetapi sebagai seseorang yang sedang merawat kekuatan untuk kembali mengejar mimpi itu suatu hari nanti. Dalam setiap pagi yang kubuka dengan senyumnya, aku belajar bahwa perjalanan ini bukan tentang kehilangan, melainkan tentang menemukan bentuk baru dari diriku.

Kadang-kadang aku merindukan versi diriku yang dulu, yang berlari cepat. Tapi ketika anakku merangkul jari-jariku dengan tangannya yang kecil, aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar kehilangan siapa pun. Aku hanya sedang belajar menjadi rumah bagi seseorang yang melihatku sebagai dunianya.

Aku menjalani hari-hari ini dengan hati yang lebih lembut. Aku menyimpan mimpiku bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijaga sampai waktu memanggilku kembali. Dan selama itu, aku akan berjalan pelan, menikmati setiap langkah, setiap tumbuhnya dia, setiap keajaiban kecil yang ia hadirkan.

Perjalanan kami masih panjang. Aku tidak tahu bagaimana bentuk masa depan nanti. Yang aku tahu hanyalah bahwa untuk sementara waktu, dunia kecilku berada di antara pelukanku dan napasnya. Dan itu cukup.

Untuk saat ini, aku adalah rumah baginya.

Dan perlahan, ia juga menjadi rumah bagi diriku sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar