Rabu, 14 Oktober 2026

My Daily

 

This Is an Endless Stream of My Collected Moments

A moments from -Anzalia-

 

 

Tentang hal-hal kecil yang membentuk hidupku, tentang menjadi seorang ibu, dan tentang waktu yang diam-diam mengajarkanku arti pulang. Aku selalu percaya bahwa hidup bukan hanya tentang peristiwa-peristiwa besar yang kelak akan kita kenang. Hidup juga tersusun dari hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah dianggap istimewa oleh siapa pun, tetapi diam-diam menetap di dalam hati. Sebuah sore yang tenang, halaman buku yang kubaca berulang kali, tulisan yang kuselesaikan ketika semua orang terlelap, lagu yang menemani perjalanan pulang, atau film kesukaan yang kutonton sambil membiarkan pikiranku beristirahat sejenak dari dunia.

This is an endless stream of my collected moments.

Bagiku, kalimat itu berarti bahwa aku sedang mengumpulkan hidupku sendiri, sedikit demi sedikit. Bukan dalam bentuk foto-foto yang sempurna atau cerita yang selalu membahagiakan, melainkan dalam bentuk perasaan, pemikiran, kenangan, dan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah diketahui orang lain. Aku mengumpulkannya melalui hal-hal yang kusukai, melalui waktu yang kuhabiskan sendirian, dan melalui peran yang setiap hari kujalani dengan segala cinta dan lelahnya: menjadi seorang ibu.

Ada hari-hari ketika aku ingin menghabiskan waktu hanya dengan menulis. Menuangkan isi kepala ke dalam kalimat-kalimat yang mungkin tidak akan pernah dibaca siapa pun. Aku menulis tentang apa yang kurasakan, tentang hal-hal yang sulit kujelaskan dengan suara, tentang kerinduan yang tidak selalu memiliki nama, dan tentang diriku yang terus berubah seiring berjalannya waktu.

Bagiku, menulis adalah cara untuk menyimpan bagian-bagian diriku yang sering kali luput dari perhatian dunia. Sebab, sebelum menjadi seorang ibu, aku juga adalah seseorang yang memiliki banyak pikiran, keinginan, dan mimpi. Aku memiliki dunia kecil yang dibangun dari kata-kata, cerita, dan hal-hal sederhana yang membuatku merasa hidup. Dan meskipun kini ada begitu banyak hal yang harus kupikirkan untuk orang lain, aku ingin tetap memiliki ruang untuk mendengarkan diriku sendiri.

Aku ingin tetap menjadi perempuan yang sesekali duduk dengan buku catatan, menuliskan apa pun yang melintas di pikirannya, tanpa harus menghasilkan sesuatu yang berguna. Aku ingin percaya bahwa tidak semua waktu harus dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan. Ada waktu yang boleh kuhabiskan hanya untuk mengenali perasaanku sendiri, memahami hari yang baru saja kulewati, atau sekadar menulis satu kalimat yang terasa mewakili hatiku.

Lalu, ada membaca.

Aku menyukai gagasan bahwa sebuah buku bisa membawaku ke kehidupan yang tidak pernah kutinggali, memperkenalkanku kepada orang-orang yang tidak pernah kutemui, dan memberiku kesempatan untuk memahami perasaan yang mungkin belum pernah bisa kujelaskan sebelumnya. Di antara halaman-halamannya, aku bisa menemukan bagian dari diriku sendiri. Terkadang melalui tokoh yang sedang berjuang, terkadang melalui seseorang yang sedang kehilangan, dan terkadang melalui kalimat sederhana yang terasa seperti ditulis khusus untuk seseorang yang sedang berusaha memahami hidupnya.

Membaca membuatku mengerti bahwa setiap orang memiliki kisah yang tidak sepenuhnya terlihat dari luar. Bahwa setiap manusia membawa sesuatu yang sedang diperjuangkannya. Dan bahwa menjadi dewasa mungkin berarti belajar menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana.

Sebagai seorang ibu, aku ingin tetap membaca. Bukan karena aku ingin terlihat sebagai seseorang yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi karena aku ingin terus bertumbuh. Aku ingin memiliki sesuatu untuk kubagikan kepada anakku selain nasihat. Aku ingin suatu hari nanti bisa mengajaknya berbicara tentang kehidupan, tentang kebaikan, tentang kehilangan, tentang keberanian, dan tentang bagaimana kita bisa tetap menjadi manusia yang lembut meskipun dunia tidak selalu memperlakukan kita dengan lembut.

Aku ingin anakku tumbuh dengan mengetahui bahwa ibunya juga seorang pembelajar. Bahwa aku tidak mengetahui segalanya, bahwa aku pun masih bisa salah, dan bahwa menjadi dewasa bukan berarti berhenti mencari tahu.

Dan tentu saja, ada musik.

Ada sesuatu yang begitu personal dari mendengarkan lagu yang kusukai. Kadang-kadang, sebuah lagu mampu mengatakan hal-hal yang tidak bisa kuungkapkan sendiri. Ada lagu yang membuatku mengenang masa lalu, ada yang membuatku merasa ditemani, dan ada pula yang membuatku ingin berhenti sejenak, memandang ke luar jendela, lalu membiarkan pikiranku mengembara ke mana saja.

Aku bisa mendengarkan satu lagu berkali-kali hanya karena ada bagian kecil di dalamnya yang terasa begitu dekat dengan hidupku. Mungkin liriknya mengingatkanku pada seseorang. Mungkin melodinya membawa kembali kenangan yang sudah lama kusimpan. Atau mungkin aku hanya menyukai perasaan yang muncul ketika lagu itu diputar.

Musik memberiku ruang untuk merasakan sesuatu tanpa harus menjelaskannya. Aku tidak selalu perlu mencari alasan mengapa sebuah lagu membuatku sedih atau mengapa lagu lain membuatku merasa lebih tenang. Terkadang, aku hanya perlu mendengarkannya sampai selesai.

Menjadi seorang ibu tidak membuatku berhenti menyukai hal-hal seperti itu. Aku tetap seorang perempuan yang memiliki lagu-lagu favorit, cerita yang ingin dibaca, dan pikiran yang ingin dituangkan. Aku tetap seseorang yang sesekali ingin menutup mata, memakai earphone, dan menikmati beberapa menit yang terasa menjadi milikku sendiri.

Begitu pula dengan film-film yang kusukai.

Aku menyukai cerita yang membuatku memikirkan kehidupan setelah layar menjadi gelap. Cerita tentang orang-orang yang sedang mencari tempatnya di dunia, tentang keluarga, tentang cinta yang tumbuh perlahan, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa dijelaskan, dan tentang seseorang yang berusaha menemukan dirinya kembali setelah melewati masa-masa sulit.

Kadang-kadang, aku menonton bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Aku ingin merasakan emosi yang beragam, mengenal kisah yang berbeda dari kisahku sendiri, dan mengingat bahwa dunia begitu luas untuk dipahami hanya melalui pengalaman pribadiku.

Ada film yang membuatku tertawa, ada yang membuatku menangis diam-diam, dan ada yang meninggalkan kehangatan yang bertahan bahkan setelah ceritanya selesai. Beberapa cerita mungkin akan kulupakan alurnya, tetapi perasaan yang ditinggalkannya bisa saja menetap jauh lebih lama.

Dan mungkin itulah mengapa aku menyukai cerita: karena cerita membuatku merasa bahwa kehidupan, dengan segala kerumitannya, selalu memiliki sesuatu untuk diajarkan.

Namun, dari semua hal yang membentuk hari-hariku, menjadi seorang ibu adalah bagian yang paling dalam dan paling sulit dijelaskan.

Menjadi ibu membuat waktu terasa berbeda. Hari-hari terkadang berjalan begitu cepat, tetapi pada saat yang sama, aku bisa menghabiskan waktu yang panjang hanya dengan memperhatikan hal-hal kecil tentang anakku. Perubahan yang mungkin tidak disadari orang lain, kebiasaan sederhana, suara tawa, pertanyaan-pertanyaan polos, atau cara ia menemukan sesuatu yang baru di dunia yang baginya masih begitu luas. Ada begitu banyak momen yang mungkin tampak biasa ketika sedang terjadi, tetapi kelak bisa menjadi kenangan yang paling ingin kuingat.

Aku tahu, tidak semua hari menjadi ibu dipenuhi kelembutan. Ada hari-hari yang melelahkan, ketika tanggung jawab terasa lebih besar daripada tenaga yang kumiliki. Ada saat-saat ketika aku harus mengesampingkan keinginanku sendiri, mengatur ulang rencana, dan belajar bersabar ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kuharapkan.

Terkadang, aku mungkin merindukan waktu yang bisa kuhabiskan tanpa memikirkan siapa pun selain diriku sendiri. Aku ingin membaca lebih lama, menulis tanpa tergesa-gesa, mendengarkan musik sampai lagu terakhir, atau menonton film tanpa harus memikirkan hal lain yang masih menungguku. Dan aku ingin tahu bahwa merindukan waktu untuk diriku sendiri tidak membuatku menjadi ibu yang kurang mencintai anaknya.

Sebab, aku mulai memahami bahwa menjadi seorang ibu bukan berarti kehilangan seluruh bagian diriku yang lain. Aku tetap memiliki hak untuk beristirahat, menikmati sesuatu yang kusukai, memiliki impian, dan menjadi seseorang di luar peran yang kujalani setiap hari.

Aku bisa mencintai anakku dengan sepenuh hati sekaligus mencintai buku-buku yang kubaca. Aku bisa menikmati waktu bersamanya sekaligus merindukan waktu untuk menulis. Aku bisa menjadikan keluarga sebagai bagian terpenting dalam hidupku tanpa harus menghapus semua hal yang membuatku merasa menjadi diriku sendiri. Barangkali, justru dengan tetap merawat bagian-bagian kecil itu, aku bisa menjalani peranku dengan hati yang lebih utuh.

Aku ingin anakku kelak mengenal ibunya bukan hanya sebagai seseorang yang selalu mengurus kebutuhan keluarga, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki rasa ingin tahu, menyukai keindahan, menghargai cerita, dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.

Aku ingin ia tahu bahwa perempuan boleh memiliki dunia di dalam dirinya sendiri. Bahwa menjadi ibu bukan akhir dari perjalanan untuk mengenal diri, melainkan sebuah bab baru yang memperkaya cara seseorang memahami kehidupan.

Dan ketika suatu hari nanti anakku tumbuh besar, aku ingin melihat kembali semua yang pernah kukumpulkan ini: tulisan-tulisanku, buku-buku yang pernah kubaca, lagu-lagu yang menemani malamku, film-film yang pernah kusukai, serta kenangan tentang hari-hari ketika ia masih membutuhkan kehadiranku untuk begitu banyak hal.

Mungkin, ketika itu tiba, aku akan menyadari bahwa waktu yang dahulu terasa biasa ternyata menyimpan begitu banyak hal yang berharga.

Aku akan merindukan suara-suara kecil yang memenuhi rumah. Aku mungkin akan tersenyum membaca kembali tulisan lama dan menemukan seorang perempuan yang ternyata sudah melewati begitu banyak hal. Aku akan mendengarkan lagu-lagu yang sama dan mengingat bagaimana rasanya menjalani kehidupan pada masa itu. Aku mungkin akan menonton kembali film yang dahulu kusukai, lalu menyadari bahwa diriku telah berubah, meskipun cerita itu tetap sama.

Dan di antara semua kenangan itu, aku berharap menemukan diriku sendiri: seorang perempuan yang berusaha mencintai dengan baik, membesarkan anaknya dengan penuh perhatian, dan tetap menyisakan ruang untuk hal-hal yang membuat hidup terasa indah.

Karena pada akhirnya, hidupku bukan hanya tentang satu peran, satu pencapaian, atau satu peristiwa besar yang bisa kuceritakan kepada dunia.

Hidupku adalah kumpulan dari semua hal yang pernah kurasakan dan kucintai.

Tentang halaman-halaman buku yang pernah kusentuh. Tentang kalimat yang kutulis ketika tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Tentang lagu yang kuputar ketika ingin menenangkan pikiran. Tentang film yang mengajarkanku melihat dunia dengan lebih luas. Tentang tangan kecil yang kugenggam, pelukan yang kuberikan, dan hari-hari sederhana yang kujalani sebagai seorang ibu.

Tentang diriku yang terus tumbuh, bahkan ketika tidak menyadarinya.

Aku tidak tahu seperti apa kehidupan yang menungguku beberapa tahun dari sekarang. Aku tidak tahu kenangan mana yang akan bertahan paling lama atau bagian mana dari hari ini yang kelak akan paling kurindukan.

Namun, aku ingin terus mengumpulkan semuanya.

Bukan untuk membuktikan bahwa hidupku selalu indah, melainkan agar aku tidak lupa bahwa bahkan dalam hari-hari yang melelahkan, selalu ada sesuatu yang layak disimpan. Bahwa aku pernah tertawa, pernah menangis, pernah mencintai, pernah merasa kehilangan arah, dan tetap menemukan alasan untuk melanjutkan perjalanan.

Aku ingin menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari sedang menjadi bagian dari sebuah cerita panjang yang tidak akan pernah benar-benar selesai.

Dan mungkin, ketika aku melihat kembali semua yang pernah kulewati, aku tidak akan mengingat setiap detailnya. Aku hanya akan mengingat perasaan-perasaan yang tertinggal: hangatnya cinta, tenangnya sore, indahnya sebuah cerita, suara musik yang menemani kesunyian, dan kebahagiaan sederhana ketika menyadari bahwa orang-orang yang kucintai pernah berada begitu dekat denganku.

This is an endless stream of my collected moments.

Ini adalah aliran panjang dari momen-momen yang kukumpulkan. Dari setiap halaman yang kubaca, setiap kata yang kutulis, setiap lagu yang kudengarkan, setiap film yang kusukai, dan setiap hari yang kujalani sebagai seorang ibu.

Semuanya adalah bagian dariku.

Dan jika suatu hari nanti aku bertanya-tanya ke mana perginya waktu, aku ingin bisa membuka kembali kenangan-kenangan itu dan berkata kepada diriku sendiri:

Lihatlah, aku pernah berada di sini. Aku pernah menjalani hari-hari ini, mencintai orang-orang ini, menyukai hal-hal sederhana ini, dan menjadi perempuan yang sedang belajar memahami kehidupan.

Aku tidak menjalani hidup dengan sempurna, tetapi aku telah mengisinya dengan hal-hal yang berarti bagiku.

Dan ternyata, itu sudah menjadi cerita yang begitu berharga.

Karena pada akhirnya, aku tidak ingin hanya menghabiskan waktu sampai hari-hari berlalu. Aku ingin benar-benar hadir di dalamnya. Menikmati apa yang kusukai, merawat apa yang kucintai, memberi ruang bagi diriku sendiri, dan menyimpan kenangan sebanyak yang bisa kutampung oleh hati.

Sebab, mungkin kehidupan yang paling indah bukanlah kehidupan yang dipenuhi peristiwa luar biasa, melainkan kehidupan yang membuatku ingin mengingat kembali hal-hal kecil yang pernah menjadikannya milikku. 😊

 

continue reading My Daily

Rabu, 02 September 2026

About You

 

Setelah Kepergianmu

  

Kadang aku masih tidak percaya bahwa aku benar-benar harus menjalani hidup setelah kamu pergi. Rasanya aneh sekali, karena dunia tetap berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Matahari masih terbit setiap pagi, orang-orang masih sibuk dengan hidup mereka, jalanan masih ramai, tawa masih terdengar di mana-mana. Sementara di dalam diriku, ada seseorang yang pernah menjadi bagian paling besar dari hidupku dan sekarang sudah tidak ada di sini. Aku masih bangun setiap pagi, masih melakukan banyak hal, masih bertemu orang-orang baru, masih tertawa, tetapi ada satu ruang di dalam diriku yang tetap kosong sejak kamu pergi.

Aku masih sering melihat ke langit. Entah kenapa, langit selalu membuatku mengingatmu. Kadang ketika sedang melihat betapa indahnya langit, tiba-tiba saja aku berhenti dan berpikir tentang kamu. Aku membayangkan apakah kamu juga bisa melihat langit yang sama dari tempatmu sekarang. Aku sering bertanya dalam hati, “Kamu apa kabar? Gimana di sana? Apakah rumahmu memperlakukanmu dengan baik?” Aku berharap iya. Aku berharap tempatmu sekarang jauh lebih indah daripada tempat yang kutinggali. Aku berharap kamu bahagia, tenang, dan tidak merasakan sakit apa pun lagi.

Setelah kamu pergi, aku bertemu dengan versi diriku yang paling sedih. Versi diriku yang bahkan tidak pernah kukenal sebelumnya. Ada hari-hari ketika aku hanya ingin diam. Ada malam ketika aku menangis tanpa benar-benar tahu apa yang harus kulakukan dengan rasa kehilangan itu. Aku pernah merasa begitu kosong sampai tidak tahu harus mencari apa. Aku kehilangan seseorang, tetapi rasanya seperti aku juga kehilangan sebagian dari diriku sendiri. Mungkin karena selama ini aku terbiasa memiliki kamu dalam hidupku, sehingga ketika kamu tidak ada, aku harus belajar lagi bagaimana caranya menjadi diriku sendiri.

Tetapi waktu terus berjalan, dan aku ternyata ikut berjalan bersamanya. Perlahan aku mulai lebih santai menjalani hidup. Aku mulai menikmati apa pun yang datang kepadaku. Aku punya teman-teman baru untuk tertawa, aku punya keluarga untuk tinggal dan menghabiskan waktu, aku punya banyak hal yang sebenarnya dibutuhkan untuk hidup. Aku mulai menemukan kebahagiaan kecil di tempat-tempat yang tidak pernah kuduga. Aku bisa tertawa lagi. Aku bisa menikmati hari-hari biasa lagi. Dan untuk semua itu, aku bersyukur.

Namun bersyukur bukan berarti aku sudah tidak kehilanganmu. Aku masih kehilanganmu. Sampai sekarang. Hanya saja, aku mulai belajar bahwa seseorang bisa bersyukur atas hidupnya sekaligus tetap merindukan seseorang yang sudah tidak ada di dalam hidupnya. Aku bisa tertawa bersama teman-temanku, lalu pulang dan tiba-tiba merasa sedih karena teringat kamu. Aku bisa merasa baik-baik saja sepanjang hari, lalu malamnya melihat sebuah foto dan kembali merasakan sesak yang sama. Mungkin seperti itulah kehilangan bekerja. Ia tidak selalu datang dengan air mata. Kadang ia datang dalam bentuk sebuah lagu, sebuah tempat, sebuah aroma, sebuah foto, atau bahkan langit yang terlalu indah.

Aku punya banyak foto tentangmu. Tetapi ada satu foto yang terasa begitu berbeda. Setiap kali melihatnya, aku seperti sedang kembali ke masa ketika semuanya masih baik-baik saja. Aku melihat foto itu lama, lalu membayangkan aku dan Khalid sedang melihatmu. Seolah-olah dari kejauhan kami masih bisa melihat seseorang yang paling kami rindukan. Kadang aku ingin sekali berbicara kepadamu melalui foto itu. Ingin bilang bahwa kami masih di sini. Kami masih tumbuh. Kami masih tertawa. Kami masih mencoba menjalani hidup meskipun tanpa kamu.

Aku juga sering merasa bersalah karena sudah lama tidak mengunjungi rumahmu. Maaf. Bukan karena aku tidak ingin datang. Mungkin aku hanya belum cukup kuat. Ada tempat-tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan, dan aku takut ketika kembali ke sana, semua perasaan yang selama ini berusaha kusimpan akan kembali keluar sekaligus. Aku takut merasa bahwa kamu masih ada di sana, lalu harus kembali mengingat bahwa sebenarnya kamu sudah pergi. Tetapi suatu hari nanti aku akan datang. Aku ingin datang bukan hanya untuk menangis, tetapi untuk mengenangmu dengan lebih tenang. Untuk duduk sebentar dan mengingat semua hal baik yang pernah kita punya.

Aku masih mengirim pesan kepadamu. Selamat pagi. Aku rindu. Aku baik-baik saja. Hari ini aku capek. Hari ini aku tertawa. Hari ini aku menangis lagi. Hari ini aku melihat sesuatu yang indah dan langsung mengingatmu. Aku tahu mungkin tidak akan pernah ada balasan dari pesan-pesan itu, tetapi entah kenapa aku tetap ingin menulis. Mungkin karena dengan menulis kepadamu, rasanya jarak di antara kita menjadi sedikit lebih dekat. Seolah-olah aku masih punya tempat untuk bercerita. Seolah-olah kamu masih mendengarkan.

Pernah ada malam ketika aku berpikir untuk mengirim pesan sebanyak-banyaknya sebelum semuanya benar-benar berhenti. Karena aku tahu mungkin suatu hari aku tidak akan lagi mengirim pesan seperti sekarang. Bukan karena aku berhenti mencintaimu. Bukan karena aku lupa. Tetapi karena aku sedang belajar menerima bahwa tidak semua orang yang kita cintai bisa tetap tinggal bersama kita selamanya. Ada orang-orang yang datang untuk menjadi rumah, lalu suatu hari harus pergi. Dan ketika mereka pergi, kita hanya bisa membawa rumah itu di dalam ingatan.

Aku pernah bertanya kepada Tuhan kenapa harus kamu. Kenapa aku harus kehilanganmu. Kenapa seseorang yang begitu berarti harus pergi lebih dulu. Ada begitu banyak pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban. Tetapi semakin lama aku mencoba memahami bahwa mungkin aku tidak harus mengetahui semua alasannya. Mungkin Tuhan mengambilmu karena Dia lebih mencintaimu. Mungkin sekarang kamu berada di tempat yang jauh lebih baik. Aku tidak tahu. Tetapi aku ingin percaya begitu. Karena kalau kamu benar-benar bahagia di sana, maka aku ingin belajar merelakanmu di sini.

Aku tahu bagian tersulitnya adalah menerima bahwa aku tidak bisa lagi menunggumu pulang. Dulu aku selalu bisa menunggu seseorang pulang. Sekarang aku harus menerima bahwa kamu tidak akan pulang lagi. Jadi aku belajar menunggu dengan cara yang berbeda. Aku menunggu hari ketika rasa sakit ini berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut. Aku menunggu hari ketika aku bisa melihat fotomu tanpa merasa hancur. Aku menunggu hari ketika aku bisa menyebut namamu sambil tersenyum, bukan hanya menangis.

Mungkin melepaskan bukan berarti berhenti mencintai. Mungkin melepaskan hanya berarti berhenti meminta seseorang untuk kembali ketika kita tahu mereka sudah menemukan tempatnya. Aku ingin membiarkanmu bahagia di sana. Aku ingin percaya bahwa kamu sudah menemukan rumah yang lebih indah. Aku ingin percaya bahwa kamu tidak lagi sakit, tidak lagi takut, tidak lagi sedih. Dan meskipun sebagian kecil dari diriku masih ingin kamu ada di sini, aku akan belajar menerima bahwa kebahagiaanmu mungkin sekarang bukan lagi bersamaku, tetapi di tempat yang Tuhan siapkan untukmu.

Aku akan tetap hidup. Aku akan tetap tertawa. Aku akan tetap bertemu orang-orang baru. Aku akan tetap membuat cerita-cerita baru. Aku akan menangis ketika memang ingin menangis, aku akan diam ketika memang ingin diam, dan aku akan bangun lagi ketika aku jatuh. Aku tidak ingin hidupku berhenti hanya karena kamu sudah pergi. Karena aku tahu, kalau kamu masih di sini, mungkin kamu justru ingin melihatku baik-baik saja. Mungkin kamu ingin melihatku tumbuh menjadi seseorang yang bisa menjalani hidup dengan kuat.

Jadi kalau suatu hari aku terlihat bahagia, jangan berpikir aku sudah melupakanmu. Kalau suatu hari aku tidak lagi menangis ketika melihat fotomu, jangan berpikir aku sudah tidak merindukanmu. Aku hanya sedang belajar mengingatmu dengan cara yang berbeda. Dulu aku mengingatmu dengan air mata. Sekarang aku ingin perlahan mengingatmu dengan senyum. Karena kamu pernah menjadi bagian paling indah dari hidupku, dan aku tidak ingin seluruh kenangan tentangmu hanya dipenuhi oleh kesedihan.

Mungkin akan selalu ada bagian kecil dari diriku yang masih menunggumu. Bukan menunggu kamu kembali, tetapi menunggu hari ketika aku akhirnya bisa mengatakan dengan tenang, “Aku baik-baik saja.” Aku ingin suatu hari nanti melihat langit, tersenyum, lalu berpikir bahwa mungkin kamu juga sedang melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedih. Aku hanya merasa beruntung karena pernah memiliki seseorang sepertimu dalam hidupku.

Jadi, kalau kamu bisa mendengar semua pesan yang selama ini kukirim, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku masih merindukanmu seperti biasanya. Aku masih mengingatmu ketika melihat langit. Aku masih mengingatmu ketika melihat foto itu. Aku masih mengingatmu ketika mendengar lagu tertentu. Aku masih ingin bercerita kepadamu tentang hidupku. Aku masih ingin bilang kalau aku baik-baik saja, meskipun sebenarnya ada hari-hari ketika aku tidak baik-baik saja.

Dan mungkin memang begitulah caraku mencintaimu setelah kamu pergi. Aku tidak bisa lagi memelukmu, tidak bisa lagi mendengar suaramu, tidak bisa lagi melihatmu datang dan pergi. Tetapi aku masih bisa mengingatmu. Aku masih bisa mendoakanmu. Aku masih bisa membawa namamu di dalam cerita-cerita hidupku. Dan selama aku masih melakukan itu, sebagian dari dirimu akan selalu tinggal bersamaku.

Malam ini, aku kembali melihat langit. Indah sekali. Dan seperti biasa, aku langsung teringat kamu.

Aku tidak tahu apakah kamu bisa melihatku dari sana.

Tapi kalau kamu bisa, aku harap kamu tahu satu hal.

Aku sedang mencoba.

Aku sedang belajar hidup.

Aku sedang belajar menerima.

Aku sedang belajar tersenyum lagi.

Dan meskipun waktu terus berjalan, satu hal tidak pernah berubah.

I miss you like always I do.

Seperti About You.

Tentang kamu.

Selalu tentang kamu.

Dan mungkin akan selalu begitu.

Like Khalid and me looking at you.

Kami masih melihat ke langit.

Kami masih mengingatmu.

Kami masih menyayangimu.

Dan kami masih merindukanmu.

Selalu. 🤎

 

continue reading About You

Jumat, 24 Juli 2026

Motherhood

 

SISA CAHAYA YANG KUPANGGIL “AKU”

 

Oleh : Anzalia-

 



I am a Mother 24/7

But When I lay at bed at night,

I am just a 29 years old girl

Trying to still figure out life.

Reminiscing my 20s,

The wils, chaotic dan fun years.

Still Searching,

Makeup looks

Skincare,

Hair care,

Shoes,

Mom Outfits,

How to make friends as adults.

Thingking How Fast the time is flying.

One day you were packing for collage,

Now you are packing for your kids and husband.

I am a mother, a wife, a daughter and a sister.

But I am also just a girl

Living life for the very first time. -(Divi Maggo, 2026)

 

Siang hari, semua orang mengenalku dari peranku. Aku adalah seorang ibu yang selalu siap ketika anakku menangis, seorang istri yang berusaha membuat rumah terasa hangat, seorang anak yang masih ingin membahagiakan orang tua, dan seorang saudara yang selalu ingin ada ketika dibutuhkan.

Sejak matahari terbit hingga kembali tenggelam, waktuku seolah bukan lagi milikku. Ada bekal yang harus disiapkan, pakaian yang harus dilipat, rumah yang perlu dirapikan, dan pelukan kecil yang selalu mencariku. Di sela-sela kesibukan itu, aku sering lupa bahwa aku juga memiliki nama, mimpi, dan cerita sebelum semua peran itu datang.

Namun ketika malam tiba, saat rumah mulai sunyi dan semua telah terlelap, aku kembali bertemu dengan diriku sendiri.

Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, aku bukan hanya seorang ibu. Aku hanyalah seorang perempuan yang masih belajar menjalani hidup untuk pertama kalinya.

Aku teringat masa-masa ketika usia dua puluhan terasa begitu bebas. Aku pernah menghabiskan waktu memilih lipstik yang cocok, mencoba berbagai perawatan kulit, menata rambut dengan penuh semangat, atau membeli sepatu hanya karena merasa itu akan membuatku lebih percaya diri. Aku pernah tertawa tanpa memikirkan jam, bepergian dengan rencana yang spontan, dan percaya bahwa waktu berjalan begitu lambat.

Kini semuanya terasa berbeda….

Yang dulu memenuhi tas adalah buku kuliah dan barang-barang pribadi. Sekarang yang kubawa adalah botol minum anak, pakaian cadangan, camilan, dan segala hal yang mungkin dibutuhkan keluarga. Dulu aku sibuk mencari gaya berpakaian yang paling mencerminkan diriku. Kini aku lebih sering mencari pakaian yang nyaman untuk bergerak mengejar langkah kecil anakku.

Sesekali aku masih mencari tahu bagaimana cara merias wajah yang sederhana, bagaimana merawat diri di sela kesibukan, bagaimana menemukan teman baru ketika semua orang tampak sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Aku masih belajar menjadi versi terbaik dari diriku, meski jalannya kini berbeda.

Ada hari-hari ketika aku merasa kuat. Ada pula hari-hari ketika aku merasa lelah dan mempertanyakan apakah aku sudah melakukan yang terbaik. Aku pernah merasa bersalah karena ingin memiliki waktu untuk diriku sendiri. Padahal, merawat diri bukan berarti mengurangi cinta untuk keluarga. Justru dengan hati yang tenang, aku bisa kembali memberikan kasih sayang yang utuh.

Perjalanan ini membuatku sadar bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar sudah tahu cara menjalani hidup. Bahkan setelah menjadi ibu, istri, anak, dan saudara, aku tetap seorang manusia yang sedang belajar. Belajar menerima perubahan, belajar berdamai dengan waktu, dan belajar mencintai diriku sendiri di setiap fase kehidupan.

Aku mungkin telah tumbuh menjadi banyak hal bagi banyak orang. Tetapi jauh di dalam hati, masih ada gadis kecil yang sesekali merindukan mimpinya, masih ingin tertawa lepas, masih ingin mencoba hal-hal baru, dan masih percaya bahwa dirinya juga layak diperhatikan.

Aku tidak kehilangan diriku.

Aku hanya sedang bertumbuh.

Dan mungkin, itulah arti menjadi dewasa. Bukan tentang memiliki semua jawaban, melainkan berani melangkah setiap hari, sambil menerima bahwa kita semua sedang menjalani hidup ini untuk pertama kalinya.

Aku adalah seorang ibu.

Aku adalah seorang istri.

Aku adalah seorang anak.

Aku adalah seorang saudara.

Tetapi sebelum semua itu, dan setelah semua peran itu selesai untuk hari ini..  

Aku tetaplah aku. Seorang perempuan yang sedang belajar mencintai hidup, satu hari, satu langkah, dan satu cerita pada satu waktu.

continue reading Motherhood

Sabtu, 27 Juni 2026

Yang bertumbuh diam-diam

 

Barangkali Bahagia Memang Sesederhana Ini

Oleh : Anzalia



"Kita tidak harus menjadi luar biasa. Kehidupan yang biasa-biasa saja pun sudah lebih dari cukup asalkan kita bisa menemukan makna dan kebahagiaan kecil di dalamnya." — Kisah Toko Kelinci Namiya (Higashino Keigo)

 

Pagi selalu datang lebih dulu daripada siapa pun di rumah ini. Saat langit masih berwarna abu-abu pucat dan udara masih menyimpan dingin malam, aku sudah terbangun untuk memulai hari. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada rapat penting, penghargaan, atau pencapaian besar yang menungguku. Hanya dapur yang perlu dirapikan, pakaian yang harus dicuci, dan rumah yang perlu dijaga agar tetap nyaman untuk orang-orang yang kucintai.

Dulu, sesekali aku memandang hidupku dengan rasa hampa. Saat melihat orang lain membagikan keberhasilan, karier yang cemerlang, atau perjalanan ke tempat-tempat yang indah, aku bertanya-tanya apakah hidupku terlalu biasa. Hari-hariku terasa seperti pengulangan yang tidak pernah selesai. Memasak, membersihkan rumah, mencuci, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Namun waktu mengajarkanku melihat sesuatu yang berbeda.

Suatu pagi, ketika sedang menjemur pakaian di halaman, aku memperhatikan sinar matahari yang jatuh di antara jemuran. Angin menggerakkan kain-kain yang bersih, dan dari dalam rumah terdengar suara orang-orang yang kusayangi memulai harinya. Saat itu, entah mengapa, hatiku terasa hangat.

Aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku terlalu sering melihat apa yang tidak kumiliki, hingga lupa menghargai apa yang sudah ada di depanku. Rumah yang sederhana ini memang tidak besar, tetapi di dalamnya ada tempat untuk pulang. Meja makan yang biasa saja itu mungkin tidak pernah dipenuhi hidangan mewah, tetapi di sanalah kebersamaan tumbuh setiap hari. Pekerjaan-pekerjaan kecil yang kulakukan mungkin tidak pernah mendapat tepuk tangan, tetapi dari sanalah kenyamanan keluarga perlahan dibangun.

Tidak ada yang melihat bagaimana aku bangun lebih pagi agar orang-orang di rumah bisa memulai hari dengan baik. Tidak ada yang menghitung berapa kali aku membereskan barang yang berantakan atau berapa banyak hal kecil yang kuselesaikan setiap hari. Namun semakin bertambah usia, aku mulai memahami bahwa tidak semua hal yang berharga harus terlihat oleh banyak orang.

Kadang kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Dalam secangkir teh hangat yang bisa kunikmati setelah pekerjaan selesai. Dalam tawa yang terdengar dari ruang keluarga. Dalam rasa lega ketika semua orang pulang dengan selamat. Dalam malam yang tenang setelah hari yang panjang.

Aku bukan perempuan dengan kehidupan yang luar biasa. Aku hanya seorang ibu rumah tangga dengan rutinitas yang mungkin terlihat biasa bagi banyak orang. Namun di antara lantai yang kusapu, pakaian yang kulipat, makanan yang kusiapkan, dan doa-doa yang kupanjatkan diam-diam, aku menemukan makna yang tidak pernah kutemukan saat sibuk membandingkan hidupku dengan orang lain.

Kini aku mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk pencapaian besar. Kadang ia hadir sebagai rasa cukup. Sebagai kemampuan untuk mensyukuri hari yang berjalan sederhana. Sebagai hati yang tenang saat melihat orang-orang yang dicintai baik-baik saja.

Dan pada akhirnya, aku belajar bahwa hidupku memang biasa-biasa saja. Namun justru di dalam kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah tersimpan begitu banyak cinta, makna, dan kebahagiaan kecil yang membuat setiap hari terasa berharga. Karena ternyata, menjadi luar biasa bukanlah syarat untuk memiliki kehidupan yang indah. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang mampu melihat kehangatan dalam hal-hal yang sederhana.

Waktu telah mengubah banyak hal dalam hidupku. Ada mimpi-mimpi yang perlahan berganti bentuk, ada harapan yang tumbuh lebih tenang, dan ada diriku yang tidak lagi sama seperti dulu. Namun di tengah semua perubahan itu, aku menyadari bahwa setiap hari yang kulewati bersama orang-orang yang kucintai telah meninggalkan jejak yang membentuk siapa diriku hari ini. Seperti aliran sungai yang pelan-pelan mengukir batu, kebersamaan, pengorbanan, dan kasih sayang yang sederhana ternyata telah membentuk hidup ini menjadi sesuatu yang utuh. Mungkin inilah bentuk kehidupan yang sesungguhnya—bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menjadi seseorang yang dibentuk oleh cinta, oleh waktu, dan oleh orang-orang yang selalu ada di sisi perjalanan.-Anzalia

 

 

continue reading Yang bertumbuh diam-diam

Kamis, 11 Desember 2025

Rumah ke Rumah :)

 

Tempat Aku Berhenti dan Kembali Menemukan Diri

Oleh Anzalia


Sejak hari pertama aku memeluknya, hidupku terasa berubah arah. Aku pernah memiliki daftar panjang tentang hal-hal yang ingin kukejar, tempat-tempat yang ingin kudatangi, dan mimpi-mimpi yang kubangun dengan penuh semangat. Namun, ketika tubuh kecil itu diletakkan di dadaku, seakan semua daftar itu menepi sendiri, memberi ruang pada sesuatu yang jauh lebih lembut dan lebih penting.

Anakku lahir dengan tangis yang membuat dadaku bergetar, seolah dunia memberi tanda bahwa dari hari itu, aku memiliki peran baru yang tak pernah benar-benar kupersiapkan, tetapi langsung kupeluk sepenuh hati. Rasanya seperti memulai hidup dari halaman pertama kembali, tapi kali ini dengan warna yang tak pernah kutemukan sebelumnya.

Hari-hari setelah ia lahir berjalan dalam ritme yang tak pernah kukenal. Ada pagi yang penuh tawa kecil, ada malam yang panjang dan sunyi namun tetap terasa hangat karena napas lembutnya di pelukanku. Kadang aku merasa begitu lelah, tubuhku mencari-cari sisa energi yang mungkin tertinggal. Kadang dadaku terasa penuh oleh rasa takut—takut gagal, takut tidak cukup baik, takut tidak mampu menjalani semuanya.

Namun setiap kali kutatap wajahnya yang mungil, ada sesuatu yang membuatku kembali kuat. Seperti dunia sedang mengingatkanku bahwa berhenti dari mimpiku bukanlah menyerah, melainkan memilih untuk menjaga sesuatu yang baru tumbuh dengan sepenuh hati. Bahwa langkahku memang melambat, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Ada masa di mana aku duduk lama di tepi tempat tidur, memandangi langit di luar jendela sambil mengingat hari-hari sebelum ia datang. Hidupku dulu terasa luas, rasanya seperti aku bisa menempuh apa pun. Kini, hidupku terasa lebih kecil, tetapi dalam ruang yang lebih kecil itu, aku menemukan kehangatan yang tak tertandingi. Setiap geraknya, setiap helaan napasnya, seolah menenun ulang diriku menjadi manusia yang berbeda.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit, dan bersamanya aku juga tumbuh—bukan sebagai seseorang yang meninggalkan impiannya, tetapi sebagai seseorang yang sedang merawat kekuatan untuk kembali mengejar mimpi itu suatu hari nanti. Dalam setiap pagi yang kubuka dengan senyumnya, aku belajar bahwa perjalanan ini bukan tentang kehilangan, melainkan tentang menemukan bentuk baru dari diriku.

Kadang-kadang aku merindukan versi diriku yang dulu, yang berlari cepat. Tapi ketika anakku merangkul jari-jariku dengan tangannya yang kecil, aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar kehilangan siapa pun. Aku hanya sedang belajar menjadi rumah bagi seseorang yang melihatku sebagai dunianya.

Aku menjalani hari-hari ini dengan hati yang lebih lembut. Aku menyimpan mimpiku bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijaga sampai waktu memanggilku kembali. Dan selama itu, aku akan berjalan pelan, menikmati setiap langkah, setiap tumbuhnya dia, setiap keajaiban kecil yang ia hadirkan.

Perjalanan kami masih panjang. Aku tidak tahu bagaimana bentuk masa depan nanti. Yang aku tahu hanyalah bahwa untuk sementara waktu, dunia kecilku berada di antara pelukanku dan napasnya. Dan itu cukup.

Untuk saat ini, aku adalah rumah baginya.

Dan perlahan, ia juga menjadi rumah bagi diriku sendiri.

continue reading Rumah ke Rumah :)

Jumat, 21 November 2025

Sebuah Perjalanan

 

Di Antara Mawar dan Cahaya yang Pulang

Di taman mawar, bunga-bunga bermanuver menuju sinar matahari musim dingin dan suara air terjun kolam koi yang memikat membuatmu berpikir ia jatuh cinta padamu. Kau tak melawan—kau sudah selesai (setidaknya untuk sementara) dengan dunia "biasa" itu. ― Tom Hillman, Digging

Hari itu, kau datang bukan untuk mencari apa pun kau hanya ingin berhenti sejenak dari riuh pikiranmu yang tak pernah tidur. Dunia terasa berat, terlalu ramai, terlalu menuntut, dan kau mulai kehilangan dirimu di tengah semua suara yang bukan milikmu. Maka kau melangkah masuk ke taman mawar itu, tempat yang entah bagaimana terasa lebih jujur daripada manusia mana pun yang kau temui belakangan ini. Udara musim dingin memelukmu dengan cara yang tak hangat, tapi juga tak dingin hanya cukup untuk mengingatkan bahwa kau masih hidup.

Di sana, bunga-bunga mawar tidak sekadar tumbuh mereka seperti makhluk lembut yang memahami perjuanganmu. Kelopak-kelopaknya miring, bergerak pelan, “bermanuver” menuju seberkas sinar matahari pucat. Seolah mereka ingin menunjukkan: meski cahaya hanya sisa, tetaplah bergerak ke arahnya. Melihat itu, dadamu yang selama ini sesak perlahan mengendur. Kau mulai merasakan sesuatu yang lama hilang ketenangan. Suara air terjun di kolam koi berjatuhan lembut, seperti alunan nada yang dicipta hanya untukmu. Riaknya memantulkan cahaya samar, dan pada pantulannya kau melihat bentuk dirimu yang lebih jernih, lebih tenang, lebih utuh.

Di momen itu, kau merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan perasaan yang biasanya datang dari manusia; bukan cinta yang penuh harap atau takut kehilangan. Ini lebih… sunyi. Lebih damai. Seperti taman itu, dengan segala keheningan dan musim dinginnya, memiliki cara halus untuk mencintaimu tanpa suara. Dan kau tidak melawan.

Untuk pertama kalinya sejak lama, kau membiarkan dirimu diterima. Kau membiarkan dirimu dicintai oleh sesuatu yang tidak meminta apa pun darimu. Kau membiarkan bahumu terjatuh, hatimu terbuka, dan dunia “biasa” yang selalu membuatmu lelah… kau tinggalkan di belakang, walau hanya untuk sementara. Di tengah mawar-mawar itu, kau menemukan sesuatu yang nyaris terlupakan dirimu sendiri. Dan ketenangan yang kau biarkan masuk, pada akhirnya menuntunmu untuk merangkai kata-kata yang sejak lama ingin keluar, tetapi tak pernah menemukan jalannya.

Lalu, Pada malam yang dingin tapi terasa hangat ini kutuliskan puisi yang ingin kubaca sendiri.

Pelan pelan dengan tenang pun dengan lantang…

 

Di taman mawar yang dingin dan sunyi,

aku menemukan diriku kembali—

bukan sebagai bayang-bayang yang lelah,

melainkan sebagai tubuh yang ingin disembuhkan.

 

Bunga-bunga itu bergerak menuju cahaya,

seolah mengajariku tentang harapan

yang tidak pernah sepenuhnya hilang—

hanya menunggu untuk dipanggil pulang.

 

Air terjun berbisik di antara batu,

menyebut namaku dengan irama lembut,

seakan berkata: bertahanlah,

bahkan saat dunia terasa terlalu besar.

 

Aku berdiri di sana—

membiarkan cinta paling sunyi memelukku.

Tidak dalam bentuk tangan,

tetapi dalam bentuk ketenangan

yang menyelinap ke dalam dada tanpa izin.

 

Dan untuk sesaat,

aku berhenti mencari tempat untuk kembali—

karena aku sadar,

aku telah menemukannya di sini.

 

Di taman itu,

di antara mawar-mawar yang tak menyerah pada musim,

aku belajar mencintai kembali diriku

yang pernah hilang di tengah kebisingan dunia.

 

Dan ketika aku melangkah pergi,

aku membawa serta cahaya kecil itu—

cahaya yang berkata:

“Kau layak untuk tenang.

Kau layak untuk pulang.

Kau layak untuk cinta yang lembut.”

Anzalia

continue reading Sebuah Perjalanan