Rabu, 14 Oktober 2026

My Daily

 

This Is an Endless Stream of My Collected Moments

A moments from -Anzalia-

 

 

Tentang hal-hal kecil yang membentuk hidupku, tentang menjadi seorang ibu, dan tentang waktu yang diam-diam mengajarkanku arti pulang. Aku selalu percaya bahwa hidup bukan hanya tentang peristiwa-peristiwa besar yang kelak akan kita kenang. Hidup juga tersusun dari hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah dianggap istimewa oleh siapa pun, tetapi diam-diam menetap di dalam hati. Sebuah sore yang tenang, halaman buku yang kubaca berulang kali, tulisan yang kuselesaikan ketika semua orang terlelap, lagu yang menemani perjalanan pulang, atau film kesukaan yang kutonton sambil membiarkan pikiranku beristirahat sejenak dari dunia.

This is an endless stream of my collected moments.

Bagiku, kalimat itu berarti bahwa aku sedang mengumpulkan hidupku sendiri, sedikit demi sedikit. Bukan dalam bentuk foto-foto yang sempurna atau cerita yang selalu membahagiakan, melainkan dalam bentuk perasaan, pemikiran, kenangan, dan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah diketahui orang lain. Aku mengumpulkannya melalui hal-hal yang kusukai, melalui waktu yang kuhabiskan sendirian, dan melalui peran yang setiap hari kujalani dengan segala cinta dan lelahnya: menjadi seorang ibu.

Ada hari-hari ketika aku ingin menghabiskan waktu hanya dengan menulis. Menuangkan isi kepala ke dalam kalimat-kalimat yang mungkin tidak akan pernah dibaca siapa pun. Aku menulis tentang apa yang kurasakan, tentang hal-hal yang sulit kujelaskan dengan suara, tentang kerinduan yang tidak selalu memiliki nama, dan tentang diriku yang terus berubah seiring berjalannya waktu.

Bagiku, menulis adalah cara untuk menyimpan bagian-bagian diriku yang sering kali luput dari perhatian dunia. Sebab, sebelum menjadi seorang ibu, aku juga adalah seseorang yang memiliki banyak pikiran, keinginan, dan mimpi. Aku memiliki dunia kecil yang dibangun dari kata-kata, cerita, dan hal-hal sederhana yang membuatku merasa hidup. Dan meskipun kini ada begitu banyak hal yang harus kupikirkan untuk orang lain, aku ingin tetap memiliki ruang untuk mendengarkan diriku sendiri.

Aku ingin tetap menjadi perempuan yang sesekali duduk dengan buku catatan, menuliskan apa pun yang melintas di pikirannya, tanpa harus menghasilkan sesuatu yang berguna. Aku ingin percaya bahwa tidak semua waktu harus dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan. Ada waktu yang boleh kuhabiskan hanya untuk mengenali perasaanku sendiri, memahami hari yang baru saja kulewati, atau sekadar menulis satu kalimat yang terasa mewakili hatiku.

Lalu, ada membaca.

Aku menyukai gagasan bahwa sebuah buku bisa membawaku ke kehidupan yang tidak pernah kutinggali, memperkenalkanku kepada orang-orang yang tidak pernah kutemui, dan memberiku kesempatan untuk memahami perasaan yang mungkin belum pernah bisa kujelaskan sebelumnya. Di antara halaman-halamannya, aku bisa menemukan bagian dari diriku sendiri. Terkadang melalui tokoh yang sedang berjuang, terkadang melalui seseorang yang sedang kehilangan, dan terkadang melalui kalimat sederhana yang terasa seperti ditulis khusus untuk seseorang yang sedang berusaha memahami hidupnya.

Membaca membuatku mengerti bahwa setiap orang memiliki kisah yang tidak sepenuhnya terlihat dari luar. Bahwa setiap manusia membawa sesuatu yang sedang diperjuangkannya. Dan bahwa menjadi dewasa mungkin berarti belajar menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana.

Sebagai seorang ibu, aku ingin tetap membaca. Bukan karena aku ingin terlihat sebagai seseorang yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi karena aku ingin terus bertumbuh. Aku ingin memiliki sesuatu untuk kubagikan kepada anakku selain nasihat. Aku ingin suatu hari nanti bisa mengajaknya berbicara tentang kehidupan, tentang kebaikan, tentang kehilangan, tentang keberanian, dan tentang bagaimana kita bisa tetap menjadi manusia yang lembut meskipun dunia tidak selalu memperlakukan kita dengan lembut.

Aku ingin anakku tumbuh dengan mengetahui bahwa ibunya juga seorang pembelajar. Bahwa aku tidak mengetahui segalanya, bahwa aku pun masih bisa salah, dan bahwa menjadi dewasa bukan berarti berhenti mencari tahu.

Dan tentu saja, ada musik.

Ada sesuatu yang begitu personal dari mendengarkan lagu yang kusukai. Kadang-kadang, sebuah lagu mampu mengatakan hal-hal yang tidak bisa kuungkapkan sendiri. Ada lagu yang membuatku mengenang masa lalu, ada yang membuatku merasa ditemani, dan ada pula yang membuatku ingin berhenti sejenak, memandang ke luar jendela, lalu membiarkan pikiranku mengembara ke mana saja.

Aku bisa mendengarkan satu lagu berkali-kali hanya karena ada bagian kecil di dalamnya yang terasa begitu dekat dengan hidupku. Mungkin liriknya mengingatkanku pada seseorang. Mungkin melodinya membawa kembali kenangan yang sudah lama kusimpan. Atau mungkin aku hanya menyukai perasaan yang muncul ketika lagu itu diputar.

Musik memberiku ruang untuk merasakan sesuatu tanpa harus menjelaskannya. Aku tidak selalu perlu mencari alasan mengapa sebuah lagu membuatku sedih atau mengapa lagu lain membuatku merasa lebih tenang. Terkadang, aku hanya perlu mendengarkannya sampai selesai.

Menjadi seorang ibu tidak membuatku berhenti menyukai hal-hal seperti itu. Aku tetap seorang perempuan yang memiliki lagu-lagu favorit, cerita yang ingin dibaca, dan pikiran yang ingin dituangkan. Aku tetap seseorang yang sesekali ingin menutup mata, memakai earphone, dan menikmati beberapa menit yang terasa menjadi milikku sendiri.

Begitu pula dengan film-film yang kusukai.

Aku menyukai cerita yang membuatku memikirkan kehidupan setelah layar menjadi gelap. Cerita tentang orang-orang yang sedang mencari tempatnya di dunia, tentang keluarga, tentang cinta yang tumbuh perlahan, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa dijelaskan, dan tentang seseorang yang berusaha menemukan dirinya kembali setelah melewati masa-masa sulit.

Kadang-kadang, aku menonton bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Aku ingin merasakan emosi yang beragam, mengenal kisah yang berbeda dari kisahku sendiri, dan mengingat bahwa dunia begitu luas untuk dipahami hanya melalui pengalaman pribadiku.

Ada film yang membuatku tertawa, ada yang membuatku menangis diam-diam, dan ada yang meninggalkan kehangatan yang bertahan bahkan setelah ceritanya selesai. Beberapa cerita mungkin akan kulupakan alurnya, tetapi perasaan yang ditinggalkannya bisa saja menetap jauh lebih lama.

Dan mungkin itulah mengapa aku menyukai cerita: karena cerita membuatku merasa bahwa kehidupan, dengan segala kerumitannya, selalu memiliki sesuatu untuk diajarkan.

Namun, dari semua hal yang membentuk hari-hariku, menjadi seorang ibu adalah bagian yang paling dalam dan paling sulit dijelaskan.

Menjadi ibu membuat waktu terasa berbeda. Hari-hari terkadang berjalan begitu cepat, tetapi pada saat yang sama, aku bisa menghabiskan waktu yang panjang hanya dengan memperhatikan hal-hal kecil tentang anakku. Perubahan yang mungkin tidak disadari orang lain, kebiasaan sederhana, suara tawa, pertanyaan-pertanyaan polos, atau cara ia menemukan sesuatu yang baru di dunia yang baginya masih begitu luas. Ada begitu banyak momen yang mungkin tampak biasa ketika sedang terjadi, tetapi kelak bisa menjadi kenangan yang paling ingin kuingat.

Aku tahu, tidak semua hari menjadi ibu dipenuhi kelembutan. Ada hari-hari yang melelahkan, ketika tanggung jawab terasa lebih besar daripada tenaga yang kumiliki. Ada saat-saat ketika aku harus mengesampingkan keinginanku sendiri, mengatur ulang rencana, dan belajar bersabar ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kuharapkan.

Terkadang, aku mungkin merindukan waktu yang bisa kuhabiskan tanpa memikirkan siapa pun selain diriku sendiri. Aku ingin membaca lebih lama, menulis tanpa tergesa-gesa, mendengarkan musik sampai lagu terakhir, atau menonton film tanpa harus memikirkan hal lain yang masih menungguku. Dan aku ingin tahu bahwa merindukan waktu untuk diriku sendiri tidak membuatku menjadi ibu yang kurang mencintai anaknya.

Sebab, aku mulai memahami bahwa menjadi seorang ibu bukan berarti kehilangan seluruh bagian diriku yang lain. Aku tetap memiliki hak untuk beristirahat, menikmati sesuatu yang kusukai, memiliki impian, dan menjadi seseorang di luar peran yang kujalani setiap hari.

Aku bisa mencintai anakku dengan sepenuh hati sekaligus mencintai buku-buku yang kubaca. Aku bisa menikmati waktu bersamanya sekaligus merindukan waktu untuk menulis. Aku bisa menjadikan keluarga sebagai bagian terpenting dalam hidupku tanpa harus menghapus semua hal yang membuatku merasa menjadi diriku sendiri. Barangkali, justru dengan tetap merawat bagian-bagian kecil itu, aku bisa menjalani peranku dengan hati yang lebih utuh.

Aku ingin anakku kelak mengenal ibunya bukan hanya sebagai seseorang yang selalu mengurus kebutuhan keluarga, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki rasa ingin tahu, menyukai keindahan, menghargai cerita, dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.

Aku ingin ia tahu bahwa perempuan boleh memiliki dunia di dalam dirinya sendiri. Bahwa menjadi ibu bukan akhir dari perjalanan untuk mengenal diri, melainkan sebuah bab baru yang memperkaya cara seseorang memahami kehidupan.

Dan ketika suatu hari nanti anakku tumbuh besar, aku ingin melihat kembali semua yang pernah kukumpulkan ini: tulisan-tulisanku, buku-buku yang pernah kubaca, lagu-lagu yang menemani malamku, film-film yang pernah kusukai, serta kenangan tentang hari-hari ketika ia masih membutuhkan kehadiranku untuk begitu banyak hal.

Mungkin, ketika itu tiba, aku akan menyadari bahwa waktu yang dahulu terasa biasa ternyata menyimpan begitu banyak hal yang berharga.

Aku akan merindukan suara-suara kecil yang memenuhi rumah. Aku mungkin akan tersenyum membaca kembali tulisan lama dan menemukan seorang perempuan yang ternyata sudah melewati begitu banyak hal. Aku akan mendengarkan lagu-lagu yang sama dan mengingat bagaimana rasanya menjalani kehidupan pada masa itu. Aku mungkin akan menonton kembali film yang dahulu kusukai, lalu menyadari bahwa diriku telah berubah, meskipun cerita itu tetap sama.

Dan di antara semua kenangan itu, aku berharap menemukan diriku sendiri: seorang perempuan yang berusaha mencintai dengan baik, membesarkan anaknya dengan penuh perhatian, dan tetap menyisakan ruang untuk hal-hal yang membuat hidup terasa indah.

Karena pada akhirnya, hidupku bukan hanya tentang satu peran, satu pencapaian, atau satu peristiwa besar yang bisa kuceritakan kepada dunia.

Hidupku adalah kumpulan dari semua hal yang pernah kurasakan dan kucintai.

Tentang halaman-halaman buku yang pernah kusentuh. Tentang kalimat yang kutulis ketika tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Tentang lagu yang kuputar ketika ingin menenangkan pikiran. Tentang film yang mengajarkanku melihat dunia dengan lebih luas. Tentang tangan kecil yang kugenggam, pelukan yang kuberikan, dan hari-hari sederhana yang kujalani sebagai seorang ibu.

Tentang diriku yang terus tumbuh, bahkan ketika tidak menyadarinya.

Aku tidak tahu seperti apa kehidupan yang menungguku beberapa tahun dari sekarang. Aku tidak tahu kenangan mana yang akan bertahan paling lama atau bagian mana dari hari ini yang kelak akan paling kurindukan.

Namun, aku ingin terus mengumpulkan semuanya.

Bukan untuk membuktikan bahwa hidupku selalu indah, melainkan agar aku tidak lupa bahwa bahkan dalam hari-hari yang melelahkan, selalu ada sesuatu yang layak disimpan. Bahwa aku pernah tertawa, pernah menangis, pernah mencintai, pernah merasa kehilangan arah, dan tetap menemukan alasan untuk melanjutkan perjalanan.

Aku ingin menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari sedang menjadi bagian dari sebuah cerita panjang yang tidak akan pernah benar-benar selesai.

Dan mungkin, ketika aku melihat kembali semua yang pernah kulewati, aku tidak akan mengingat setiap detailnya. Aku hanya akan mengingat perasaan-perasaan yang tertinggal: hangatnya cinta, tenangnya sore, indahnya sebuah cerita, suara musik yang menemani kesunyian, dan kebahagiaan sederhana ketika menyadari bahwa orang-orang yang kucintai pernah berada begitu dekat denganku.

This is an endless stream of my collected moments.

Ini adalah aliran panjang dari momen-momen yang kukumpulkan. Dari setiap halaman yang kubaca, setiap kata yang kutulis, setiap lagu yang kudengarkan, setiap film yang kusukai, dan setiap hari yang kujalani sebagai seorang ibu.

Semuanya adalah bagian dariku.

Dan jika suatu hari nanti aku bertanya-tanya ke mana perginya waktu, aku ingin bisa membuka kembali kenangan-kenangan itu dan berkata kepada diriku sendiri:

Lihatlah, aku pernah berada di sini. Aku pernah menjalani hari-hari ini, mencintai orang-orang ini, menyukai hal-hal sederhana ini, dan menjadi perempuan yang sedang belajar memahami kehidupan.

Aku tidak menjalani hidup dengan sempurna, tetapi aku telah mengisinya dengan hal-hal yang berarti bagiku.

Dan ternyata, itu sudah menjadi cerita yang begitu berharga.

Karena pada akhirnya, aku tidak ingin hanya menghabiskan waktu sampai hari-hari berlalu. Aku ingin benar-benar hadir di dalamnya. Menikmati apa yang kusukai, merawat apa yang kucintai, memberi ruang bagi diriku sendiri, dan menyimpan kenangan sebanyak yang bisa kutampung oleh hati.

Sebab, mungkin kehidupan yang paling indah bukanlah kehidupan yang dipenuhi peristiwa luar biasa, melainkan kehidupan yang membuatku ingin mengingat kembali hal-hal kecil yang pernah menjadikannya milikku. 😊

 

0 komentar:

Posting Komentar