This Is an
Endless Stream of My Collected Moments
A moments
from -Anzalia-
Tentang hal-hal kecil yang membentuk hidupku, tentang
menjadi seorang ibu, dan tentang waktu yang diam-diam mengajarkanku arti
pulang. Aku selalu percaya bahwa hidup bukan hanya tentang peristiwa-peristiwa
besar yang kelak akan kita kenang. Hidup juga tersusun dari hal-hal kecil yang
mungkin tidak pernah dianggap istimewa oleh siapa pun, tetapi diam-diam menetap
di dalam hati. Sebuah sore yang tenang, halaman buku yang kubaca berulang kali,
tulisan yang kuselesaikan ketika semua orang terlelap, lagu yang menemani
perjalanan pulang, atau film kesukaan yang kutonton sambil membiarkan pikiranku
beristirahat sejenak dari dunia.
This
is an endless stream of my collected moments.
Bagiku, kalimat itu berarti bahwa aku sedang mengumpulkan
hidupku sendiri, sedikit demi sedikit. Bukan dalam bentuk foto-foto yang
sempurna atau cerita yang selalu membahagiakan, melainkan dalam bentuk
perasaan, pemikiran, kenangan, dan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah
diketahui orang lain. Aku mengumpulkannya melalui hal-hal yang kusukai, melalui
waktu yang kuhabiskan sendirian, dan melalui peran yang setiap hari kujalani
dengan segala cinta dan lelahnya: menjadi seorang ibu.
Ada hari-hari ketika aku ingin menghabiskan waktu hanya
dengan menulis. Menuangkan isi kepala ke dalam kalimat-kalimat yang mungkin tidak
akan pernah dibaca siapa pun. Aku menulis tentang apa yang kurasakan, tentang
hal-hal yang sulit kujelaskan dengan suara, tentang kerinduan yang tidak selalu
memiliki nama, dan tentang diriku yang terus berubah seiring berjalannya waktu.
Bagiku, menulis adalah cara untuk menyimpan bagian-bagian
diriku yang sering kali luput dari perhatian dunia. Sebab, sebelum menjadi
seorang ibu, aku juga adalah seseorang yang memiliki banyak pikiran, keinginan,
dan mimpi. Aku memiliki dunia kecil yang dibangun dari kata-kata, cerita, dan
hal-hal sederhana yang membuatku merasa hidup. Dan meskipun kini ada begitu
banyak hal yang harus kupikirkan untuk orang lain, aku ingin tetap memiliki
ruang untuk mendengarkan diriku sendiri.
Aku ingin tetap menjadi perempuan yang sesekali duduk dengan
buku catatan, menuliskan apa pun yang melintas di pikirannya, tanpa harus
menghasilkan sesuatu yang berguna. Aku ingin percaya bahwa tidak semua waktu
harus dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan. Ada waktu yang boleh kuhabiskan
hanya untuk mengenali perasaanku sendiri, memahami hari yang baru saja
kulewati, atau sekadar menulis satu kalimat yang terasa mewakili hatiku.
Lalu,
ada membaca.
Aku menyukai gagasan bahwa sebuah buku bisa membawaku ke
kehidupan yang tidak pernah kutinggali, memperkenalkanku kepada orang-orang
yang tidak pernah kutemui, dan memberiku kesempatan untuk memahami perasaan
yang mungkin belum pernah bisa kujelaskan sebelumnya. Di antara
halaman-halamannya, aku bisa menemukan bagian dari diriku sendiri. Terkadang
melalui tokoh yang sedang berjuang, terkadang melalui seseorang yang sedang
kehilangan, dan terkadang melalui kalimat sederhana yang terasa seperti ditulis
khusus untuk seseorang yang sedang berusaha memahami hidupnya.
Membaca membuatku mengerti bahwa setiap orang memiliki kisah
yang tidak sepenuhnya terlihat dari luar. Bahwa setiap manusia membawa sesuatu
yang sedang diperjuangkannya. Dan bahwa menjadi dewasa mungkin berarti belajar
menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana.
Sebagai seorang ibu, aku ingin tetap membaca. Bukan karena
aku ingin terlihat sebagai seseorang yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi
karena aku ingin terus bertumbuh. Aku ingin memiliki sesuatu untuk kubagikan
kepada anakku selain nasihat. Aku ingin suatu hari nanti bisa mengajaknya
berbicara tentang kehidupan, tentang kebaikan, tentang kehilangan, tentang
keberanian, dan tentang bagaimana kita bisa tetap menjadi manusia yang lembut
meskipun dunia tidak selalu memperlakukan kita dengan lembut.
Aku ingin anakku tumbuh dengan mengetahui bahwa ibunya juga
seorang pembelajar. Bahwa aku tidak mengetahui segalanya, bahwa aku pun masih
bisa salah, dan bahwa menjadi dewasa bukan berarti berhenti mencari tahu.
Dan
tentu saja, ada musik.
Ada sesuatu yang begitu personal dari mendengarkan lagu yang
kusukai. Kadang-kadang, sebuah lagu mampu mengatakan hal-hal yang tidak bisa
kuungkapkan sendiri. Ada lagu yang membuatku mengenang masa lalu, ada yang
membuatku merasa ditemani, dan ada pula yang membuatku ingin berhenti sejenak,
memandang ke luar jendela, lalu membiarkan pikiranku mengembara ke mana saja.
Aku bisa mendengarkan satu lagu berkali-kali hanya karena
ada bagian kecil di dalamnya yang terasa begitu dekat dengan hidupku. Mungkin
liriknya mengingatkanku pada seseorang. Mungkin melodinya membawa kembali
kenangan yang sudah lama kusimpan. Atau mungkin aku hanya menyukai perasaan
yang muncul ketika lagu itu diputar.
Musik memberiku ruang untuk merasakan sesuatu tanpa harus
menjelaskannya. Aku tidak selalu perlu mencari alasan mengapa sebuah lagu
membuatku sedih atau mengapa lagu lain membuatku merasa lebih tenang.
Terkadang, aku hanya perlu mendengarkannya sampai selesai.
Menjadi
seorang ibu tidak membuatku berhenti menyukai hal-hal seperti itu. Aku tetap
seorang perempuan yang memiliki lagu-lagu favorit, cerita yang ingin dibaca,
dan pikiran yang ingin dituangkan. Aku tetap seseorang yang sesekali ingin
menutup mata, memakai earphone, dan menikmati beberapa menit yang terasa
menjadi milikku sendiri.
Begitu
pula dengan film-film yang kusukai.
Aku menyukai cerita yang membuatku memikirkan kehidupan
setelah layar menjadi gelap. Cerita tentang orang-orang yang sedang mencari
tempatnya di dunia, tentang keluarga, tentang cinta yang tumbuh perlahan,
tentang kehilangan yang tidak selalu bisa dijelaskan, dan tentang seseorang
yang berusaha menemukan dirinya kembali setelah melewati masa-masa sulit.
Kadang-kadang, aku menonton bukan untuk melarikan diri dari
kehidupan, melainkan untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Aku ingin merasakan emosi yang beragam, mengenal kisah yang berbeda dari
kisahku sendiri, dan mengingat bahwa dunia begitu luas untuk dipahami hanya
melalui pengalaman pribadiku.
Ada film yang membuatku tertawa, ada yang membuatku menangis
diam-diam, dan ada yang meninggalkan kehangatan yang bertahan bahkan setelah
ceritanya selesai. Beberapa cerita mungkin akan kulupakan alurnya, tetapi
perasaan yang ditinggalkannya bisa saja menetap jauh lebih lama.
Dan mungkin itulah mengapa aku menyukai cerita: karena
cerita membuatku merasa bahwa kehidupan, dengan segala kerumitannya, selalu
memiliki sesuatu untuk diajarkan.
Namun,
dari semua hal yang membentuk hari-hariku, menjadi seorang ibu adalah bagian
yang paling dalam dan paling sulit dijelaskan.
Menjadi ibu membuat waktu terasa berbeda. Hari-hari
terkadang berjalan begitu cepat, tetapi pada saat yang sama, aku bisa
menghabiskan waktu yang panjang hanya dengan memperhatikan hal-hal kecil
tentang anakku. Perubahan yang mungkin tidak disadari orang lain, kebiasaan
sederhana, suara tawa, pertanyaan-pertanyaan polos, atau cara ia menemukan
sesuatu yang baru di dunia yang baginya masih begitu luas. Ada begitu banyak
momen yang mungkin tampak biasa ketika sedang terjadi, tetapi kelak bisa
menjadi kenangan yang paling ingin kuingat.
Aku tahu, tidak semua hari menjadi ibu dipenuhi kelembutan.
Ada hari-hari yang melelahkan, ketika tanggung jawab terasa lebih besar
daripada tenaga yang kumiliki. Ada saat-saat ketika aku harus mengesampingkan
keinginanku sendiri, mengatur ulang rencana, dan belajar bersabar ketika segala
sesuatu tidak berjalan seperti yang kuharapkan.
Terkadang, aku mungkin merindukan waktu yang bisa kuhabiskan
tanpa memikirkan siapa pun selain diriku sendiri. Aku ingin membaca lebih lama,
menulis tanpa tergesa-gesa, mendengarkan musik sampai lagu terakhir, atau
menonton film tanpa harus memikirkan hal lain yang masih menungguku. Dan aku
ingin tahu bahwa merindukan waktu untuk diriku sendiri tidak membuatku menjadi
ibu yang kurang mencintai anaknya.
Sebab, aku mulai memahami bahwa menjadi seorang ibu bukan
berarti kehilangan seluruh bagian diriku yang lain. Aku tetap memiliki hak
untuk beristirahat, menikmati sesuatu yang kusukai, memiliki impian, dan
menjadi seseorang di luar peran yang kujalani setiap hari.
Aku
bisa mencintai anakku dengan sepenuh hati sekaligus mencintai buku-buku yang
kubaca. Aku bisa menikmati waktu bersamanya sekaligus merindukan waktu untuk
menulis. Aku bisa menjadikan keluarga sebagai bagian terpenting dalam hidupku
tanpa harus menghapus semua hal yang membuatku merasa menjadi diriku sendiri. Barangkali,
justru dengan tetap merawat bagian-bagian kecil itu, aku bisa menjalani peranku
dengan hati yang lebih utuh.
Aku ingin anakku kelak mengenal ibunya bukan hanya sebagai
seseorang yang selalu mengurus kebutuhan keluarga, tetapi juga sebagai manusia
yang memiliki rasa ingin tahu, menyukai keindahan, menghargai cerita, dan
menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.
Aku
ingin ia tahu bahwa perempuan boleh memiliki dunia di dalam dirinya sendiri.
Bahwa menjadi ibu bukan akhir dari perjalanan untuk mengenal diri, melainkan
sebuah bab baru yang memperkaya cara seseorang memahami kehidupan.
Dan ketika suatu hari nanti anakku tumbuh besar, aku ingin
melihat kembali semua yang pernah kukumpulkan ini: tulisan-tulisanku, buku-buku
yang pernah kubaca, lagu-lagu yang menemani malamku, film-film yang pernah
kusukai, serta kenangan tentang hari-hari ketika ia masih membutuhkan
kehadiranku untuk begitu banyak hal.
Mungkin,
ketika itu tiba, aku akan menyadari bahwa waktu yang dahulu terasa biasa
ternyata menyimpan begitu banyak hal yang berharga.
Aku akan merindukan suara-suara kecil yang memenuhi rumah.
Aku mungkin akan tersenyum membaca kembali tulisan lama dan menemukan seorang
perempuan yang ternyata sudah melewati begitu banyak hal. Aku akan mendengarkan
lagu-lagu yang sama dan mengingat bagaimana rasanya menjalani kehidupan pada
masa itu. Aku mungkin akan menonton kembali film yang dahulu kusukai, lalu
menyadari bahwa diriku telah berubah, meskipun cerita itu tetap sama.
Dan di antara semua kenangan itu, aku berharap menemukan
diriku sendiri: seorang perempuan yang berusaha mencintai dengan baik,
membesarkan anaknya dengan penuh perhatian, dan tetap menyisakan ruang untuk
hal-hal yang membuat hidup terasa indah.
Karena
pada akhirnya, hidupku bukan hanya tentang satu peran, satu pencapaian, atau
satu peristiwa besar yang bisa kuceritakan kepada dunia.
Hidupku
adalah kumpulan dari semua hal yang pernah kurasakan dan kucintai.
Tentang halaman-halaman buku yang pernah kusentuh. Tentang
kalimat yang kutulis ketika tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Tentang
lagu yang kuputar ketika ingin menenangkan pikiran. Tentang film yang
mengajarkanku melihat dunia dengan lebih luas. Tentang tangan kecil yang
kugenggam, pelukan yang kuberikan, dan hari-hari sederhana yang kujalani
sebagai seorang ibu.
Tentang diriku yang terus tumbuh, bahkan ketika tidak
menyadarinya.
Aku tidak tahu seperti apa kehidupan yang menungguku
beberapa tahun dari sekarang. Aku tidak tahu kenangan mana yang akan bertahan
paling lama atau bagian mana dari hari ini yang kelak akan paling kurindukan.
Namun, aku ingin terus mengumpulkan semuanya.
Bukan untuk membuktikan bahwa hidupku selalu indah,
melainkan agar aku tidak lupa bahwa bahkan dalam hari-hari yang melelahkan,
selalu ada sesuatu yang layak disimpan. Bahwa aku pernah tertawa, pernah
menangis, pernah mencintai, pernah merasa kehilangan arah, dan tetap menemukan
alasan untuk melanjutkan perjalanan.
Aku ingin menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari
sedang menjadi bagian dari sebuah cerita panjang yang tidak akan pernah
benar-benar selesai.
Dan mungkin, ketika aku melihat kembali semua yang pernah
kulewati, aku tidak akan mengingat setiap detailnya. Aku hanya akan mengingat
perasaan-perasaan yang tertinggal: hangatnya cinta, tenangnya sore, indahnya
sebuah cerita, suara musik yang menemani kesunyian, dan kebahagiaan sederhana
ketika menyadari bahwa orang-orang yang kucintai pernah berada begitu dekat
denganku.
This
is an endless stream of my collected moments.
Ini adalah aliran panjang dari momen-momen yang kukumpulkan.
Dari setiap halaman yang kubaca, setiap kata yang kutulis, setiap lagu yang
kudengarkan, setiap film yang kusukai, dan setiap hari yang kujalani sebagai seorang
ibu.
Semuanya
adalah bagian dariku.
Dan jika suatu hari nanti aku bertanya-tanya ke mana
perginya waktu, aku ingin bisa membuka kembali kenangan-kenangan itu dan
berkata kepada diriku sendiri:
Lihatlah,
aku pernah berada di sini. Aku pernah menjalani hari-hari ini, mencintai
orang-orang ini, menyukai hal-hal sederhana ini, dan menjadi perempuan yang
sedang belajar memahami kehidupan.
Aku tidak menjalani hidup dengan sempurna, tetapi aku telah
mengisinya dengan hal-hal yang berarti bagiku.
Dan ternyata, itu sudah menjadi cerita yang begitu berharga.
Karena pada akhirnya, aku tidak ingin hanya menghabiskan
waktu sampai hari-hari berlalu. Aku ingin benar-benar hadir di dalamnya.
Menikmati apa yang kusukai, merawat apa yang kucintai, memberi ruang bagi diriku
sendiri, dan menyimpan kenangan sebanyak yang bisa kutampung oleh hati.
Sebab, mungkin kehidupan yang paling indah bukanlah
kehidupan yang dipenuhi peristiwa luar biasa, melainkan kehidupan yang
membuatku ingin mengingat kembali hal-hal kecil yang pernah menjadikannya
milikku. 😊
0 komentar:
Posting Komentar