Setelah Kepergianmu
Kadang aku masih tidak percaya bahwa aku benar-benar harus
menjalani hidup setelah kamu pergi. Rasanya aneh sekali, karena dunia tetap
berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Matahari masih terbit setiap pagi,
orang-orang masih sibuk dengan hidup mereka, jalanan masih ramai, tawa masih
terdengar di mana-mana. Sementara di dalam diriku, ada seseorang yang pernah
menjadi bagian paling besar dari hidupku dan sekarang sudah tidak ada di sini.
Aku masih bangun setiap pagi, masih melakukan banyak hal, masih bertemu
orang-orang baru, masih tertawa, tetapi ada satu ruang di dalam diriku yang
tetap kosong sejak kamu pergi.
Aku masih sering melihat ke langit. Entah kenapa, langit
selalu membuatku mengingatmu. Kadang ketika sedang melihat betapa indahnya
langit, tiba-tiba saja aku berhenti dan berpikir tentang kamu. Aku membayangkan
apakah kamu juga bisa melihat langit yang sama dari tempatmu sekarang. Aku
sering bertanya dalam hati, “Kamu apa kabar? Gimana di sana? Apakah rumahmu
memperlakukanmu dengan baik?” Aku berharap iya. Aku berharap tempatmu
sekarang jauh lebih indah daripada tempat yang kutinggali. Aku berharap kamu
bahagia, tenang, dan tidak merasakan sakit apa pun lagi.
Setelah kamu pergi, aku bertemu dengan versi diriku yang
paling sedih. Versi diriku yang bahkan tidak pernah kukenal sebelumnya. Ada
hari-hari ketika aku hanya ingin diam. Ada malam ketika aku menangis tanpa
benar-benar tahu apa yang harus kulakukan dengan rasa kehilangan itu. Aku
pernah merasa begitu kosong sampai tidak tahu harus mencari apa. Aku kehilangan
seseorang, tetapi rasanya seperti aku juga kehilangan sebagian dari diriku
sendiri. Mungkin karena selama ini aku terbiasa memiliki kamu dalam hidupku,
sehingga ketika kamu tidak ada, aku harus belajar lagi bagaimana caranya
menjadi diriku sendiri.
Tetapi waktu terus berjalan, dan aku ternyata ikut berjalan
bersamanya. Perlahan aku mulai lebih santai menjalani hidup. Aku mulai
menikmati apa pun yang datang kepadaku. Aku punya teman-teman baru untuk
tertawa, aku punya keluarga untuk tinggal dan menghabiskan waktu, aku punya
banyak hal yang sebenarnya dibutuhkan untuk hidup. Aku mulai menemukan
kebahagiaan kecil di tempat-tempat yang tidak pernah kuduga. Aku bisa tertawa
lagi. Aku bisa menikmati hari-hari biasa lagi. Dan untuk semua itu, aku bersyukur.
Namun bersyukur bukan berarti aku sudah tidak kehilanganmu.
Aku masih kehilanganmu. Sampai sekarang. Hanya saja, aku mulai belajar bahwa
seseorang bisa bersyukur atas hidupnya sekaligus tetap merindukan seseorang
yang sudah tidak ada di dalam hidupnya. Aku bisa tertawa bersama teman-temanku,
lalu pulang dan tiba-tiba merasa sedih karena teringat kamu. Aku bisa merasa
baik-baik saja sepanjang hari, lalu malamnya melihat sebuah foto dan kembali
merasakan sesak yang sama. Mungkin seperti itulah kehilangan bekerja. Ia tidak
selalu datang dengan air mata. Kadang ia datang dalam bentuk sebuah lagu,
sebuah tempat, sebuah aroma, sebuah foto, atau bahkan langit yang terlalu
indah.
Aku punya banyak foto tentangmu. Tetapi ada satu foto yang
terasa begitu berbeda. Setiap kali melihatnya, aku seperti sedang kembali ke
masa ketika semuanya masih baik-baik saja. Aku melihat foto itu lama, lalu
membayangkan aku dan Khalid sedang melihatmu. Seolah-olah dari kejauhan kami
masih bisa melihat seseorang yang paling kami rindukan. Kadang aku ingin sekali
berbicara kepadamu melalui foto itu. Ingin bilang bahwa kami masih di sini.
Kami masih tumbuh. Kami masih tertawa. Kami masih mencoba menjalani hidup
meskipun tanpa kamu.
Aku
juga sering merasa bersalah karena sudah lama tidak mengunjungi rumahmu. Maaf.
Bukan karena aku tidak ingin datang. Mungkin aku hanya belum cukup kuat. Ada
tempat-tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan, dan aku takut ketika
kembali ke sana, semua perasaan yang selama ini berusaha kusimpan akan kembali
keluar sekaligus. Aku takut merasa bahwa kamu masih ada di sana, lalu harus
kembali mengingat bahwa sebenarnya kamu sudah pergi. Tetapi suatu hari nanti
aku akan datang. Aku ingin datang bukan hanya untuk menangis, tetapi untuk
mengenangmu dengan lebih tenang. Untuk duduk sebentar dan mengingat semua hal
baik yang pernah kita punya.
Aku masih mengirim pesan kepadamu. Selamat pagi. Aku rindu.
Aku baik-baik saja. Hari ini aku capek. Hari ini aku tertawa. Hari ini aku
menangis lagi. Hari ini aku melihat sesuatu yang indah dan langsung
mengingatmu. Aku tahu mungkin tidak akan pernah ada balasan dari pesan-pesan
itu, tetapi entah kenapa aku tetap ingin menulis. Mungkin karena dengan menulis
kepadamu, rasanya jarak di antara kita menjadi sedikit lebih dekat. Seolah-olah
aku masih punya tempat untuk bercerita. Seolah-olah kamu masih mendengarkan.
Pernah ada malam ketika aku berpikir untuk mengirim pesan
sebanyak-banyaknya sebelum semuanya benar-benar berhenti. Karena aku tahu
mungkin suatu hari aku tidak akan lagi mengirim pesan seperti sekarang. Bukan
karena aku berhenti mencintaimu. Bukan karena aku lupa. Tetapi karena aku
sedang belajar menerima bahwa tidak semua orang yang kita cintai bisa tetap
tinggal bersama kita selamanya. Ada orang-orang yang datang untuk menjadi
rumah, lalu suatu hari harus pergi. Dan ketika mereka pergi, kita hanya bisa
membawa rumah itu di dalam ingatan.
Aku pernah bertanya kepada Tuhan kenapa harus kamu. Kenapa
aku harus kehilanganmu. Kenapa seseorang yang begitu berarti harus pergi lebih
dulu. Ada begitu banyak pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban.
Tetapi semakin lama aku mencoba memahami bahwa mungkin aku tidak harus
mengetahui semua alasannya. Mungkin Tuhan mengambilmu karena Dia lebih
mencintaimu. Mungkin sekarang kamu berada di tempat yang jauh lebih baik. Aku
tidak tahu. Tetapi aku ingin percaya begitu. Karena kalau kamu benar-benar
bahagia di sana, maka aku ingin belajar merelakanmu di sini.
Aku tahu bagian tersulitnya adalah menerima bahwa aku tidak
bisa lagi menunggumu pulang. Dulu aku selalu bisa menunggu seseorang pulang.
Sekarang aku harus menerima bahwa kamu tidak akan pulang lagi. Jadi aku belajar
menunggu dengan cara yang berbeda. Aku menunggu hari ketika rasa sakit ini
berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut. Aku menunggu hari ketika aku bisa
melihat fotomu tanpa merasa hancur. Aku menunggu hari ketika aku bisa menyebut
namamu sambil tersenyum, bukan hanya menangis.
Mungkin melepaskan bukan berarti berhenti mencintai. Mungkin
melepaskan hanya berarti berhenti meminta seseorang untuk kembali ketika kita
tahu mereka sudah menemukan tempatnya. Aku ingin membiarkanmu bahagia di sana.
Aku ingin percaya bahwa kamu sudah menemukan rumah yang lebih indah. Aku ingin
percaya bahwa kamu tidak lagi sakit, tidak lagi takut, tidak lagi sedih. Dan
meskipun sebagian kecil dari diriku masih ingin kamu ada di sini, aku akan
belajar menerima bahwa kebahagiaanmu mungkin sekarang bukan lagi bersamaku,
tetapi di tempat yang Tuhan siapkan untukmu.
Aku akan tetap hidup. Aku akan tetap tertawa. Aku akan tetap
bertemu orang-orang baru. Aku akan tetap membuat cerita-cerita baru. Aku akan
menangis ketika memang ingin menangis, aku akan diam ketika memang ingin diam,
dan aku akan bangun lagi ketika aku jatuh. Aku tidak ingin hidupku berhenti
hanya karena kamu sudah pergi. Karena aku tahu, kalau kamu masih di sini,
mungkin kamu justru ingin melihatku baik-baik saja. Mungkin kamu ingin
melihatku tumbuh menjadi seseorang yang bisa menjalani hidup dengan kuat.
Jadi
kalau suatu hari aku terlihat bahagia, jangan berpikir aku sudah melupakanmu.
Kalau suatu hari aku tidak lagi menangis ketika melihat fotomu, jangan berpikir
aku sudah tidak merindukanmu. Aku hanya sedang belajar mengingatmu dengan cara
yang berbeda. Dulu aku mengingatmu dengan air mata. Sekarang aku ingin perlahan
mengingatmu dengan senyum. Karena kamu pernah menjadi bagian paling indah dari
hidupku, dan aku tidak ingin seluruh kenangan tentangmu hanya dipenuhi oleh
kesedihan.
Mungkin akan selalu ada bagian kecil dari diriku yang masih
menunggumu. Bukan menunggu kamu kembali, tetapi menunggu hari ketika aku
akhirnya bisa mengatakan dengan tenang, “Aku baik-baik saja.” Aku ingin
suatu hari nanti melihat langit, tersenyum, lalu berpikir bahwa mungkin kamu
juga sedang melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedih. Aku
hanya merasa beruntung karena pernah memiliki seseorang sepertimu dalam
hidupku.
Jadi,
kalau kamu bisa mendengar semua pesan yang selama ini kukirim, aku hanya ingin
kamu tahu bahwa aku masih merindukanmu seperti biasanya. Aku masih mengingatmu
ketika melihat langit. Aku masih mengingatmu ketika melihat foto itu. Aku masih
mengingatmu ketika mendengar lagu tertentu. Aku masih ingin bercerita kepadamu
tentang hidupku. Aku masih ingin bilang kalau aku baik-baik saja, meskipun
sebenarnya ada hari-hari ketika aku tidak baik-baik saja.
Dan
mungkin memang begitulah caraku mencintaimu setelah kamu pergi. Aku tidak bisa
lagi memelukmu, tidak bisa lagi mendengar suaramu, tidak bisa lagi melihatmu
datang dan pergi. Tetapi aku masih bisa mengingatmu. Aku masih bisa
mendoakanmu. Aku masih bisa membawa namamu di dalam cerita-cerita hidupku. Dan
selama aku masih melakukan itu, sebagian dari dirimu akan selalu tinggal
bersamaku.
Malam ini, aku kembali melihat langit. Indah sekali. Dan
seperti biasa, aku langsung teringat kamu.
Aku tidak tahu apakah kamu bisa
melihatku dari sana.
Tapi kalau kamu bisa, aku harap kamu
tahu satu hal.
Aku sedang mencoba.
Aku sedang belajar hidup.
Aku sedang belajar menerima.
Aku sedang belajar tersenyum lagi.
Dan meskipun waktu terus berjalan,
satu hal tidak pernah berubah.
I miss you like always I do.
Seperti About You.
Tentang kamu.
Selalu tentang kamu.
Dan mungkin akan selalu begitu.
Like Khalid and me looking at you.
Kami masih melihat ke langit.
Kami masih mengingatmu.
Kami masih menyayangimu.
Dan kami masih merindukanmu.
Selalu. 🤎
0 komentar:
Posting Komentar