SISA CAHAYA YANG
KUPANGGIL “AKU”
Oleh : Anzalia-
I am a Mother 24/7
But When I lay at bed
at night,
I am just a 29
years old girl
Trying to still
figure out life.
Reminiscing my
20s,
The wils, chaotic
dan fun years.
Still Searching,
Makeup looks
Skincare,
Hair care,
Shoes,
Mom Outfits,
How to make
friends as adults.
Thingking How Fast
the time is flying.
One day you were
packing for collage,
Now you are
packing for your kids and husband.
I am a mother, a
wife, a daughter and a sister.
But I am also just
a girl
Living life for
the very first time. -(Divi Maggo, 2026)
Siang hari, semua orang
mengenalku dari peranku. Aku adalah seorang ibu yang selalu siap ketika anakku
menangis, seorang istri yang berusaha membuat rumah terasa hangat, seorang anak
yang masih ingin membahagiakan orang tua, dan seorang saudara yang selalu ingin
ada ketika dibutuhkan.
Sejak matahari terbit
hingga kembali tenggelam, waktuku seolah bukan lagi milikku. Ada bekal yang
harus disiapkan, pakaian yang harus dilipat, rumah yang perlu dirapikan, dan
pelukan kecil yang selalu mencariku. Di sela-sela kesibukan itu, aku sering
lupa bahwa aku juga memiliki nama, mimpi, dan cerita sebelum semua peran itu
datang.
Namun ketika malam tiba,
saat rumah mulai sunyi dan semua telah terlelap, aku kembali bertemu dengan
diriku sendiri.
Aku berbaring sambil menatap
langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, aku bukan hanya seorang ibu. Aku
hanyalah seorang perempuan yang masih belajar menjalani hidup untuk pertama
kalinya.
Aku teringat masa-masa
ketika usia dua puluhan terasa begitu bebas. Aku pernah menghabiskan waktu
memilih lipstik yang cocok, mencoba berbagai perawatan kulit, menata rambut
dengan penuh semangat, atau membeli sepatu hanya karena merasa itu akan
membuatku lebih percaya diri. Aku pernah tertawa tanpa memikirkan jam,
bepergian dengan rencana yang spontan, dan percaya bahwa waktu berjalan begitu
lambat.
Kini semuanya terasa
berbeda….
Yang dulu memenuhi tas
adalah buku kuliah dan barang-barang pribadi. Sekarang yang kubawa adalah botol
minum anak, pakaian cadangan, camilan, dan segala hal yang mungkin dibutuhkan
keluarga. Dulu aku sibuk mencari gaya berpakaian yang paling mencerminkan
diriku. Kini aku lebih sering mencari pakaian yang nyaman untuk bergerak
mengejar langkah kecil anakku.
Sesekali aku masih
mencari tahu bagaimana cara merias wajah yang sederhana, bagaimana merawat diri
di sela kesibukan, bagaimana menemukan teman baru ketika semua orang tampak
sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Aku masih belajar menjadi versi
terbaik dari diriku, meski jalannya kini berbeda.
Ada hari-hari ketika aku
merasa kuat. Ada pula hari-hari ketika aku merasa lelah dan mempertanyakan
apakah aku sudah melakukan yang terbaik. Aku pernah merasa bersalah karena
ingin memiliki waktu untuk diriku sendiri. Padahal, merawat diri bukan berarti
mengurangi cinta untuk keluarga. Justru dengan hati yang tenang, aku bisa
kembali memberikan kasih sayang yang utuh.
Perjalanan ini membuatku
sadar bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar sudah tahu cara menjalani
hidup. Bahkan setelah menjadi ibu, istri, anak, dan saudara, aku tetap seorang
manusia yang sedang belajar. Belajar menerima perubahan, belajar berdamai
dengan waktu, dan belajar mencintai diriku sendiri di setiap fase kehidupan.
Aku mungkin telah tumbuh
menjadi banyak hal bagi banyak orang. Tetapi jauh di dalam hati, masih ada
gadis kecil yang sesekali merindukan mimpinya, masih ingin tertawa lepas, masih
ingin mencoba hal-hal baru, dan masih percaya bahwa dirinya juga layak
diperhatikan.
Aku tidak kehilangan
diriku.
Aku hanya sedang
bertumbuh.
Dan mungkin, itulah arti
menjadi dewasa. Bukan tentang memiliki semua jawaban, melainkan berani
melangkah setiap hari, sambil menerima bahwa kita semua sedang menjalani hidup
ini untuk pertama kalinya.
Aku adalah seorang ibu.
Aku adalah seorang istri.
Aku adalah seorang anak.
Aku adalah seorang
saudara.
Tetapi sebelum semua itu,
dan setelah semua peran itu selesai untuk hari ini..
Aku tetaplah aku. Seorang
perempuan yang sedang belajar mencintai hidup, satu hari, satu langkah, dan
satu cerita pada satu waktu.
0 komentar:
Posting Komentar