Jumat, 24 Juli 2026

Motherhood

 

SISA CAHAYA YANG KUPANGGIL “AKU”

 

Oleh : Anzalia-

 



I am a Mother 24/7

But When I lay at bed at night,

I am just a 29 years old girl

Trying to still figure out life.

Reminiscing my 20s,

The wils, chaotic dan fun years.

Still Searching,

Makeup looks

Skincare,

Hair care,

Shoes,

Mom Outfits,

How to make friends as adults.

Thingking How Fast the time is flying.

One day you were packing for collage,

Now you are packing for your kids and husband.

I am a mother, a wife, a daughter and a sister.

But I am also just a girl

Living life for the very first time. -(Divi Maggo, 2026)

 

Siang hari, semua orang mengenalku dari peranku. Aku adalah seorang ibu yang selalu siap ketika anakku menangis, seorang istri yang berusaha membuat rumah terasa hangat, seorang anak yang masih ingin membahagiakan orang tua, dan seorang saudara yang selalu ingin ada ketika dibutuhkan.

Sejak matahari terbit hingga kembali tenggelam, waktuku seolah bukan lagi milikku. Ada bekal yang harus disiapkan, pakaian yang harus dilipat, rumah yang perlu dirapikan, dan pelukan kecil yang selalu mencariku. Di sela-sela kesibukan itu, aku sering lupa bahwa aku juga memiliki nama, mimpi, dan cerita sebelum semua peran itu datang.

Namun ketika malam tiba, saat rumah mulai sunyi dan semua telah terlelap, aku kembali bertemu dengan diriku sendiri.

Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Untuk beberapa saat, aku bukan hanya seorang ibu. Aku hanyalah seorang perempuan yang masih belajar menjalani hidup untuk pertama kalinya.

Aku teringat masa-masa ketika usia dua puluhan terasa begitu bebas. Aku pernah menghabiskan waktu memilih lipstik yang cocok, mencoba berbagai perawatan kulit, menata rambut dengan penuh semangat, atau membeli sepatu hanya karena merasa itu akan membuatku lebih percaya diri. Aku pernah tertawa tanpa memikirkan jam, bepergian dengan rencana yang spontan, dan percaya bahwa waktu berjalan begitu lambat.

Kini semuanya terasa berbeda….

Yang dulu memenuhi tas adalah buku kuliah dan barang-barang pribadi. Sekarang yang kubawa adalah botol minum anak, pakaian cadangan, camilan, dan segala hal yang mungkin dibutuhkan keluarga. Dulu aku sibuk mencari gaya berpakaian yang paling mencerminkan diriku. Kini aku lebih sering mencari pakaian yang nyaman untuk bergerak mengejar langkah kecil anakku.

Sesekali aku masih mencari tahu bagaimana cara merias wajah yang sederhana, bagaimana merawat diri di sela kesibukan, bagaimana menemukan teman baru ketika semua orang tampak sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Aku masih belajar menjadi versi terbaik dari diriku, meski jalannya kini berbeda.

Ada hari-hari ketika aku merasa kuat. Ada pula hari-hari ketika aku merasa lelah dan mempertanyakan apakah aku sudah melakukan yang terbaik. Aku pernah merasa bersalah karena ingin memiliki waktu untuk diriku sendiri. Padahal, merawat diri bukan berarti mengurangi cinta untuk keluarga. Justru dengan hati yang tenang, aku bisa kembali memberikan kasih sayang yang utuh.

Perjalanan ini membuatku sadar bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar sudah tahu cara menjalani hidup. Bahkan setelah menjadi ibu, istri, anak, dan saudara, aku tetap seorang manusia yang sedang belajar. Belajar menerima perubahan, belajar berdamai dengan waktu, dan belajar mencintai diriku sendiri di setiap fase kehidupan.

Aku mungkin telah tumbuh menjadi banyak hal bagi banyak orang. Tetapi jauh di dalam hati, masih ada gadis kecil yang sesekali merindukan mimpinya, masih ingin tertawa lepas, masih ingin mencoba hal-hal baru, dan masih percaya bahwa dirinya juga layak diperhatikan.

Aku tidak kehilangan diriku.

Aku hanya sedang bertumbuh.

Dan mungkin, itulah arti menjadi dewasa. Bukan tentang memiliki semua jawaban, melainkan berani melangkah setiap hari, sambil menerima bahwa kita semua sedang menjalani hidup ini untuk pertama kalinya.

Aku adalah seorang ibu.

Aku adalah seorang istri.

Aku adalah seorang anak.

Aku adalah seorang saudara.

Tetapi sebelum semua itu, dan setelah semua peran itu selesai untuk hari ini..  

Aku tetaplah aku. Seorang perempuan yang sedang belajar mencintai hidup, satu hari, satu langkah, dan satu cerita pada satu waktu.

0 komentar:

Posting Komentar